Pascagempa Flores, Kemenag Perkuat Pendataan Kerusakan dan Solidaritas Lintas Iman

RILISJATENG.COM – Pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, jajaran Kementerian Agama bergerak di sejumlah wilayah terdampak. Pendataan kerusakan rumah ibadah dan madrasah dilakukan, keselamatan umat dipastikan, sementara solidaritas kemanusiaan dan doa lintas agama ikut digerakkan.

Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Berdasarkan pemutakhiran BMKG, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 itu berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Berita Lainnya

Di Manggarai Barat, jajaran Kemenag bergerak melakukan pendataan dan verifikasi kerusakan rumah ibadah lintas agama serta fasilitas pendidikan madrasah. Langkah tersebut dilakukan tidak hanya untuk mendapatkan data kerusakan, tetapi juga memastikan keselamatan umat, siswa, guru, dan ASN di tengah masih berlangsungnya gempa susulan.

Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi turun langsung meninjau sejumlah titik, di antaranya Pura Agung Giri Segara Labuan Bajo, MTsN 2 Manggarai Barat, Masjid Darul Ilmi, serta rumah ASN Kemenag. Pendataan sementara juga mencatat kerusakan pada gereja dan stasi di sejumlah kecamatan serta beberapa masjid.

Fasilitas pendidikan tak luput dari dampak gempa. Sejumlah bagian MTsN 2 Manggarai Barat mengalami kerusakan, termasuk ruang kelas, ruang guru, UKS, serta jaringan kelistrikan. Kerusakan juga ditemukan di MIN 1 Manggarai Barat dan MIS Al-Hidayah Pulau Kukusan. Ruang kelas di MIS Al-Hidayah bahkan sementara tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

“Prioritas kami adalah memastikan keselamatan umat, murid, guru, dan ASN, sekaligus menghimpun data kerusakan secara akurat untuk dilaporkan secara berjenjang,” ujar Fransiskus.

Pendataan masih terus dilakukan karena komunikasi dengan sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih. Masyarakat juga diimbau tidak memasuki bangunan yang rusak atau berpotensi tidak stabil serta terus mengikuti informasi resmi pemerintah dan otoritas terkait.

Semangat yang sama terlihat di Sikka. Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sikka Muhammad Syafiuddin turun meninjau rumah ibadah sehari setelah gempa. Peninjauan dilakukan sebagai langkah awal untuk melihat langsung kondisi bangunan serta memastikan keamanan umat sebelum kembali menggunakannya untuk beribadah.

Langkah itu menjadi penting karena dampak gempa di Sikka juga menyentuh fasilitas keagamaan. Data Pemerintah Kabupaten Sikka mencatat sedikitnya 10 rumah ibadah termasuk dalam fasilitas umum yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Di tengah proses penanganan itu, solidaritas tumbuh dari lingkungan madrasah. Keluarga besar MIN Lembata dan MAN Flores Timur menggalang kepedulian untuk membantu masyarakat terdampak gempa Flores. Aksi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menanamkan empati sekaligus mengajak warga madrasah hadir bagi sesama yang tengah menghadapi bencana.

Respons terhadap gempa juga tidak berhenti pada bantuan fisik.

Pada momentum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026, ASN Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT memanjatkan doa lintas agama untuk masyarakat yang menjadi korban dan terdampak bencana di Flores. Doa itu dipanjatkan usai pelaksanaan upacara kemerdekaan.

Di tengah perayaan kemerdekaan, perhatian terhadap mereka yang sedang berduka menjadi pesan tersendiri. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui seremoni, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi kehilangan dan kesulitan.

Rangkaian langkah di Manggarai Barat, Sikka, Lembata, hingga Kanwil Kemenag NTT memperlihatkan respons yang bergerak dalam beberapa jalur sekaligus: memastikan keamanan rumah ibadah dan madrasah, menghimpun data sebagai dasar penanganan, menggerakkan solidaritas, serta menghadirkan dukungan spiritual bagi masyarakat.

Di tengah bangunan yang retak dan warga yang masih menghadapi gempa susulan, kehadiran itu menjadi penting. Sebab, dalam situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bangunan yang kembali berdiri. Mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.

 

Pos terkait