RILISJATENG.COM-Kota Salatiga bakal memiliki pusaka sebagai identitas dan jati diri. Penempaan calon pusaka tidak hanya dilakukan para empu atau pelaku budaya, tapi juga melibatkan masyarakat, dalam Pameran Karsa Nusantara bertema Pusaka Salatiga “Menatap Sejarah, Menempa Gejolak Baru”, di lingkungan Rumah Rakyat, 21-23 Agustus 2026.
Melalui proses panjang dari jamasan hingga penempaan, lahirnya Keris Dhapur Balebang dan Tombak Lambang Cakra diharapkan menjadi lebih dari sekadar penciptaan benda pusaka. Juga menjadi simbol jati diri Salatiga dan warisan nilai yang dapat dibaca, dipahami, serta diwariskan oleh generasi ke generasi.
Ketua Panitia, Empu Ridwan, mengatakan, rangkaian menuju lahirnya pusaka Kota Salatiga telah dimulai sejak Juli 2026, melalui prosesi jamasan bakal pusaka berupa Keris Dhapur Balebang dan Tombak dengan Lambang Cakra. Setelah melalui tahapan tersebut, proses dilanjutkan dengan penempaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Turut hadir, Wali Kota beserta Wakil Wali Kota Salatiga, Forkopimda, perwakilan Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), budayawan, Kepala OPD, komunitas keris, dan lainnya
“Pada kesempatan ini, kita akan menjadi saksi sejarah baru di Kota Salatiga. Terdapat satu momen khusus, yakni Kota Salatiga akan memiliki pusaka sebagai identitas, harapan, dan doa yang akan kami wujudkan dalam bentuk fisik berupa keris dan tombak,” ujar Ridwan, saat pembukaan pameran, Jumat (21/8/2026).
Menariknya, proses penempaan tidak hanya dilakukan oleh para empu atau pelaku budaya. Perwakilan dari seluruh RW di Kota Salatiga bersama masyarakat umum, turut diberi kesempatan ambil bagian dalam proses menempa calon pusaka tersebut.
Keterlibatan masyarakat, imbuhnya, menjadi pesan pusaka Kota Salatiga lahir dari semangat kebersamaan. Pusaka tidak ditempatkan sebagai milik kelompok tertentu, tetapi menjadi simbol yang merepresentasikan masyarakat dan nilai-nilai yang hidup di Kota Salatiga.
Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan menegaskan, pelestarian pusaka tidak boleh berhenti pada upaya merawat benda-benda bersejarah.
“Pelestarian pusaka bukan semata-mata menjaga benda-benda lama agar tetap tersimpan, tetapi bagaimana nilai, pengetahuan, filosofi, dan budaya yang ada di dalamnya dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Robby.
Menurutnya, kehadiran calon pusaka Kota Salatiga menjadi bagian dari ikhtiar kebudayaan, untuk memperkuat identitas kota. Keris dan tombak tersebut diharapkan menjadi pengingat terhadap cita-cita bersama untuk menjaga Salatiga, sebagai kota yang aman, damai, sejuk, toleran, harmonis, dan sejahtera.
Kesempatan yang sama, Ketua DPRD Dance Ishak Palit menyatakan akan segera menyusun Raperda mengenai Pusaka Kota Salatiga. Selain pelestarian budaya, kegiatan juga dirangkai dengan Gelar UMKM Lokal Salatiga. Produk kuliner, kerajinan, dan berbagai karya kreatif masyarakat, mendapatkan ruang untuk dipromosikan kepada pengunjung.
Kolaborasi tersebut menunjukkan, kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Pusaka menjadi pintu masuk untuk merawat sejarah dan identitas, sementara UMKM mendapat ruang untuk tumbuh melalui kegiatan kebudayaan.(***)
