KELANA Edisi Tiga Ditutup di Borobudur, Hadirkan Pembelajaran bagi Generasi Muda

RILISJATENG.COM – Rangkaian program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) edisi tiga bertajuk “Java Overtrip” telah mencapai puncaknya. Setelah enam hari sebelumnya mengeksplorasi berbagai titik inovasi lingkungan di Jakarta, Ciamis, Banyumas, dan Yogyakarta, hari terakhir perjalanan program yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) ini ditutup dengan kunjungan inspiratif di kawasan Borobudur, Magelang, Selasa (11/8/2026).

​Para peserta diajak melihat langsung bagaimana masyarakat memadukan kearifan lokal, pengembangan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM), termasuk pariwisata secara berkelanjutan. Melalui kunjungan lapangan ini, para peserta mendalami konsep pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Berita Lainnya

“Hari ini sangat seru dan menyenangkan sekali. Kita belajar banyak di Desa Karangrejo, khususnya terkait UMKM lokal untuk menopang ekonomi mereka, ditambah dengan pengelolaan lingkungan desa menjadi sebuah wisata berbasis alam. Kemudian hari kita juga ke Candi Borobudur belajar sejarah peradaban manusia. Tentu ini menjadi pengalaman yang berharga bagi saya untuk menularkan semangat ini ke lingkungan sekitar,” tutur peserta KELANA dari SMA Islam Dian Didaktika Depok, Khaira Putri Listyanto.

​Menelusuri Kearifan Lokal dan Ekonomi Kreatif di Desa Karangrejo

​Perjalanan KELANA hari terakhir dibuka dengan kunjungan ke Desa Karangrejo, kawasan wisata berbasis alam yang terletak tidak jauh dari Candi Borobudur. Di sini, para peserta menyaksikan langsung aktivitas nyata masyarakat dalam merawat potensi desanya melalui sektor pariwisata dan industri kreatif skala mikro.

Di Tingal Art, 13 pelajar sekolah menengah atas bersama Puteri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Veronica Titisari Kosasieputri, mencoba langsung proses membatik tradisional dan melihat bagaimana karya seni bernilai tinggi diciptakan. Perjalanan berlanjut ke Pawon Simbok, tempat mereka melihat proses pembuatan rengginang tradisional yang menunjukkan bahwa kuliner lokal dapat menjadi motor penggerak ekonomi warga.

Rangkaian eksplorasi desa ditutup di Pusat Edukasi Yangko dan Moci, di mana para peserta mendalami manajemen usaha mikro untuk meningkatkan kesejahteraan warga dan menggerakkan roda ekonomi lokal.

“Jadi Desa Karangrejo dulunya konon adalah salah satu desa termiskin di Kabupaten Magelang dan sekarang berubah menjadi desa mandiri. Dan tadi yang sudah kita lakukan berkeliling di Desa Karangrejo adalah part of community development untuk mengembangkan wisata berbasis desa dan ini adalah format wisata desa,” jelas Romi Setiawan, Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH.

​Transformasi Balkondes Karangrejo: Dari Desa Tertinggal Menjadi Mandiri

​Sesi berikutnya membawa para peserta mendalami tata kelola Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo dan membedah kisah sukses transformasi wilayah yang dulunya tertinggal secara ekonomi.

​Perkembangan pesat ini didukung melalui kolaborasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) dari PT Pertamina Gas Negara (PGN), yang dipadukan dengan semangat gotong royong warga. Sinergi tersebut mengantar Karangrejo bertransformasi menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi di Kabupaten Magelang melalui pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan.

“Kami mendeklarasikan diri sebagai desa penopang keberadaan Candi Borobudur dengan menonjolkan alam yang ada di Desa Karangrejo. Desa Karangrejo sebelumnya juga secara ekonomi tertinggal daripada desa-desa yang lain yang ada di sekitar Candi Borobudur, namun dengan semangat anak-anak muda di Karangrejo kita bisa menjadi lebih baik dan menopang keberadaan Candi Borobudur,” ujar Kepala Desa Karangrejo, Hely Rofikun.

Refleksi Sejarah dan Pelestarian Lingkungan di Candi Borobudur

​Rangkaian program “Java Overtrip” ditutup di Candi Borobudur. Di situs ini, para peserta mempelajari aspek sejarah peradaban masa lalu sekaligus mengamati penerapan upaya konservasi serta pengelolaan kawasan candi.

​Fokus kunjungan mencakup pemahaman pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan meminimalisir dampak lingkungan dari aktivitas wisata, demi memastikan kelestarian situs warisan dunia tersebut bagi generasi mendatang.

​Melalui program KELANA edisi tiga ini, KLH/BPLH berharap para peserta membawa pulang wawasan nyata dan menjadi agen perubahan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan hidup.

Pos terkait