RILISJATENG.COM – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama melatih 80 siswa menjadi Peer Educator atau edukator sebaya. Mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan reproduksi, hak anak, risiko pernikahan usia anak, komunikasi dan konseling sebaya, serta ketahanan keluarga.
Pembekalan tersebut diarahkan agar siswa memahami berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja. Selain untuk meningkatkan pengetahuan pribadi, peserta dipersiapkan menjadi sumber informasi awal dan pendamping bagi teman sebaya yang menghadapi persoalan.
Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad mengatakan pendekatan sebaya penting karena remaja cenderung lebih mudah menerima pesan dari teman seusianya. Komunikasi yang setara dan dekat dengan keseharian dinilai membuat pesan pembinaan lebih mudah diterima.
“Adik-adik akan lebih mudah dipercaya oleh teman-teman sekelas dibandingkan kami yang jauh lebih tua ini. Karena itu, hari ini adik-adik tidak hanya akan dibekali dengan pengetahuan tentang bahaya dan risiko pernikahan usia anak, tentang kesehatan reproduksi, tentang hak-hak anak, maupun tentang keterampilan komunikasi dan konseling sebaya,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, pengetahuan tersebut perlu diberikan sejak dini agar remaja mampu mengenali diri, memahami lingkungan, dan mengambil keputusan secara bijak. Pemahaman tersebut juga diharapkan membantu remaja mengenali berbagai risiko yang dapat memengaruhi masa depan.
Abu Rokhmad mengatakan, pembinaan remaja tidak dapat dipisahkan dari penguatan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan cara anak menghadapi kehidupan.
“Saya kira langkah terbaik untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dimulai dari keluarga. Ini bukan sekadar asumsi, tetapi bisa dibuktikan: keluarga yang harmonis, rukun, dan damai akan menciptakan lingkungan dan masyarakat yang harmonis pula,” tuturnya.
Abu Rokhmad mengajak para siswa memanfaatkan masa remaja untuk belajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Menurutnya, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh sejak remaja menjadi bekal penting untuk membangun masa depan.
Selain itu, komunikasi terbuka antara remaja dan orang tua juga penting. Menurut Abu Rokhmad, sebagian remaja terkadang kesulitan menyampaikan persoalan atau hal yang ingin mereka ketahui kepada orang tua. Karena itu, orang tua perlu memahami cara berpikir anak dan menciptakan ruang dialog yang nyaman.
Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Jaja Zarkasyi, mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi lintas lingkungan pendidikan. Kemenag bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan melibatkan jaringan Rohani Islam (Rohis), serta menghadirkan perwakilan madrasah, sekolah umum, dan pesantren.
“Kami juga bekerja sama dengan Direktorat PAI, menggandeng kawan-kawan Rohis yang selama ini menjadi binaan dan mitra Direktorat PAI, sehingga kami menghadirkan pula beberapa sekolah umum,” ujar Jaja.
Kegiatan yang berlangsung pada 19–21 Juli 2026 di Jakarta tersebut siswa dan guru pendamping dari madrasah, sekolah umum, dan pesantren. Peserta berasal dari SMA Negeri 1 Jakarta, SMA Negeri 71 Jakarta, SMA Negeri 74 Jakarta, MAN 10 Jakarta, MAN 3 Jakarta, SMA Negeri 34 Jakarta, SMA Negeri 100 Jakarta, MAN 1 Kota Bandung, MAN 1 Darussalam Ciamis, MAN 1 Karawang, MA Amtsilati Bangsri Jepara, dan MAN 1 Yogyakarta.






